Sabtu, 12 Juni 2010
Sabtu, 27 Maret 2010
Earth Hour Movement
Emisi yang dihasilkan dari penggunaan listrik adalah sekitar 26% dari total emisi Indonesia (EAPO, 2000)
1980
Tv, radio, setrika, tape, kulkas 1 pintu, lampu, fan, hairdryer
2000
Tv, dvd,mp3 player/digital radio, komputer, printer, scanner, fax, HP, fan, AC, vacuum cleaner, mesin cuci, PS/games console, kamera digital, mini dv, digital clock, setrika, wireless phone, kulkas 2 atau 3 pintu, juicer, microwave, magic jar, dispenser, kulkas besar, electric oven, toaster, coffee maker
Gak heran kalau jumlah emisi yang kita hasilkan meningkat pesat…
Konsumsi listrik yg boros
Kita yang boros listrik, kita juga yang kena dampaknya
Kalau bisa pakai cahaya matahari gratis, kenapa harus nyalain lampu? Jangan biarkan tirai jendela menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan
Penggunaan listrik di rumah, sekitar 40% digunakan untuk penerangan atau lampu. (sumber: DJLPE, 200)
Lampu yang hemat listrik ditandai dengan jumlah lumen cahaya yang dihasilkan tiap watt nya
Contoh: Untuk menghasilkan 500 lumen cahaya, lampu bohlam membutuhkan 40 watt, sementara CFL hanya membutuhkan 11 watt.
Oleh karena itu lampu CFL disebut sebagai lampu hemat energi
(sumber: Efisiensi Energi di Hotel, Pelangi)
- Kurangi penggunaan lampu di siang hari. Maksimalkan penggunaan cahaya gratis dari matahari.
- Matikan lampu, jika tidak ada aktivitas di ruangan atau kamar.
- Jangan lupa matikan semua lampu saat ingin tidur di malam hari. Atau gunakan lampu tidur dengan watt yang kecil.
- Bersihkan lampu dan rumah lampu dari debu dan kotoran, karena dapat mengurangi pencahayaan sebesar 5%.
Lampu CFL menggunakan listrik 80% lebih hemat dan masa pakainya 10 kali lebih lama dibanding lampu bohlam. Kalau begitu, mulai hari ini semua lampu di rumah diganti dengan lampu hemat energi (CFL) yuk!
Kenapa harus hemat listrik pada pk 17.00-22.00?
Dari grafik bisa dilihat bahwa pada pk. 17.00-22.00, listrik banyak digunakan pda jam tersebut hampir setiap rumah menyalakan banyak peralatan listrik (lampu, TV, AC, dll). Pada jam tersebut, penggunaan listrik Jawa-Bali hampir mencapai 15 ribu MW. Sementara kapasitas pembangkit Jawa-Bali hanya 15 ribu MW. Jika penggunaan mencapai 15 ribu MW, maka dipastikan akan terjadi pemadaman bergilir
TAHUKAH KAMU?
Jika 10 juta pelanggan rumah tangga di Jawa-Bali mampu menghemat listrik sebesar 50 watt selama pk.17.00-22.00, maka energi listrik yang berhasil dihemat sebesar 2500MWh/ hari**
Bila tiap 1 kWh menghasilkan emisi sebesar 0,73 kg CO2*, maka emisi yang dapat dihemat sebesar 1.825 ton CO2/ hari
TAHUKAH KAMU?
AC (600 watt) yang menyala selama 1 jam setiap harinya, selama setahun menghasilkan emisi sebesar 160 kg CO2 per tahun.* Atau sama dengan emisi yang diserap 5 pohon dalam 1 tahun.
Pada kondisi stand by, alat elektronik masih mengalirkan listrik sebesar 5 watt.
Membiarkan TV, komputer, tape dan DVD player berada pada kondisi stand by selama 8 jam/ hari (karena ditinggal tidur), berarti kita telah memboroskan listrik sebesar 160 watt jam (5 watt x 4 x 8 jam) per hari.
Emisi yang dikeluarkan = 44 kg CO2 per tahun = menanam 2 pohon per tahun
Konsumsi listrik saat peralatan berada pada kondisi stand by.
| Peralatan elektronik | Daya listrik saat sedang digunakan | Daya listrik pada kondisi stand by (kabel tidak dilepas) | Rata-rata penggunaan per hari | Lamanya peralatan pada kondisi stand by (kabel tidak dilepas) | energi yang terpakai saat peralatan digunakan | Energi yang terbuang saat kondisi stand by |
| DVD player | 25 watt | 5 watt | 2 jam | 22 jam | 50 watt jam | 110 watt jam |
| Stereo tape/radio | 60 watt | 5 watt | 3jam | 21 jam | 180 watt jam | 105 watt jam |
| TV 21" | 65 watt | 5 watt | 6 jam | 18 jam | 390 watt jam | 90 watt jam |
| AC | 600 watt | 5 watt | 8 jam | 16 jam | 4800 watt jam | 80 watt jam |
DVD Player dengan kabel selalu dalam keadaan terpasang saat tidak dinyalakan, selama sehari penuh akan menghasilkan emisi 32 kg CO2/ tahun.
Jadi, segera cabut charger, saat baterai HP sudah penuh. Ini untuk mengurangi pemborosan listrik.
Rabu, 17 Maret 2010
say no to blackberry
Senin, 15 Maret 2010
the brave girl, called Rere
Rabu, 24 Februari 2010
go girl!

Selasa, 05 Januari 2010
dazzling nu year




Sabtu, 26 Desember 2009
dazzling Europe



hey all.
Senin, 21 Desember 2009
mother's day
Sabtu, 10 Oktober 2009
Pendidikan... Oh Masa Depan
tulisan saya ini dimuat di blog nya Indonesian Youth Conference a.k.a IYC
bangga banget sama diri sendiri yang walau gue lagi males nulis, tulisan
gue tetap bisa dihargai orang lain dan terpilih untuk tampil di blog iyc.
unbelievable! I feel happy about this. mungkin bakat saya memang untuk
menulis but, who know? 1 yang saya yakini, Tuhan berikan yang terbaik
untuk saya.
Love,
eleanor rigby
Pendidikan… Oh Masa Depan
Saya sering berfikir, tidak semua anak Indonesia, para putra putri generasi penerus bangsa ini mendapatkan hak mereka seluruhnya. Sebut saja, hak hidup layak dan hak memperoleh pendidikan. Apa iya semua anak anak usia sekolah dapat bersekolah? Dan apa iya mereka yang bersekolah itu hidup layak? Tidak jarang, saya bertemu anak anak kecil yang disaat jam belajar harusnya mereka bersekolah, tetapi mereka sibuk dengan aktivitas seperti mengemis, bekerja, dan lainnya untuk menyambung hidup dirinya berikut sang keluarga. Ssaya tak bisa pungkiri memang bahwa bukan hal mudah untuk di usia semuda itu sudah banting tulang menghidupi keluarga untuk menyambung hidup. Saya sendiri sering merasa putus asa bila membawa uang terbatas dan lainnya. Bagaimana dengan mereka?
Pertanyaan seperti itu terngiang di benak saya.
Entah mengapa, pekerjaan yang kurang layak itu yang harus mereka pilih. Memang, sekarang dimana saja bila ada lowongan kerja, salah satu syaratnya harus S1, berpengalaman, dan lainnya yang sukar mereka penuhi.Tapi, dengan 1 kali mengemis misalnya. mereka dapat memperoleh uang ratusan ribu (itu yang saya dengar), di era serba susah seperti ini tentu itu merupakan suatu pekerjaan yang menyenangkan, bernyanyi dan uang pun mengalir. namun, itu bukan sesuatu hal yang layak mereka peroleh. Saya sering mendengar mengenai larangan untuk mengamen dan bagi pengguna jalan yang memberikan sedekah pada gelandangan dan pengemis akan ditindak tapi sepertinya itu hanya menjadi gertakan belaka. Bukan berarti saya ingin mereka merampas satu satunya harapan anak anak itu namun, harusnya mereka bisa mendapat kehidupan lebih layak, misalnya dengan Gerakan Orang Tua Asuh, sebab, bila 1 kali saja mereka mengemis, untuk selanjutnya dia akan ketagihan karena dengan mengemis dapat memperoleh uang yang banyak.
Saya berharap agar pemerintah lebih peka akan nasib nasib mereka. Tidak hanya memikirkan soal politik, bencana, dan lainnya. Memang hal tersebut tidak boleh luput dari perhatian pemerintah, namun, anak anak Indonesia juga butuh diperhatikan sebagaimana mereka harus mendapatkannya.
Saya sangat setuju dengan sekolah kartini yang dinaungi oleh 2 orang ibu guru kembar yang dengan rela mengajar secara sukarela anak anak yang kurang mampu. Setidaknya pemerintah dapat memberikan dana bos dan beasiswa prestasi bagi putra putri bangsa. Namun, dengan fasilitas yang sudah cukup menunjang, saya harap pemerintah mampu menarik anak anak tersebut dari jalanan untuk belajar di sekolah dan menghapus pikiran mereka mengenai mengemis itu lebih enak dari sekolah sebab mengemis mendapatkan uang dan sekolah mengeluarkan uang. Setidaknya mereka bisa mendapat semua yang seharusnya mereka dapatkan seturut hak mereka.
Kemudian saya juga ingin menanggapi soal biaya pendidikan. Akan lebih baik bila pajak yang rakyat bayarkan pada pemerintah dimanfaatkan dengan baik. Misalnya, sekian persen dari pajak digunakan untuk mensubsidi biaya pendidikan. Sehingga, biaya pendidikan tidak terlalu mahal dan dapat meringankan beban khususnya untuk kalangan menengah ke bawah. Sebab, bagi sebagian besar orang, pendidikan merupakan prioritas yang utama namun, hal tersebut juga harus ditunjang dengan hal hal yang positif. Untuk masuk universitas juga tidak murah, tergolong mahal malah. Ketika di sekolah saya diadakan edufair beberapa waktu lalu, disana sebuah universitas swasta di bilangan Tanjung Duren, Jakarta Barat menaksir biaya pendidikan jurusan kedokteran mereka sekitar 70 juta dan menurut mereka untuk jurusan kedokteran itu biaya yang tergolong murah.
70 juta saja sudah murah, lalu yang mahal berapa coba?
Dari hal seperti ini dapat dipastikan jumlah sarjana di Indonesia tergolong rendah. Belum lagi syarat S1 yang biasa tampil di iklan iklan lowongan kerja. Sedangkan jumlah S1 di Indonesia sangat banyak tentu akan berpengaruh besar terhadap persaingan kerja di kalangan sarjana. Belum lagi jumlah S2 yang lebih sedikit lagi. Padahal, sarjana seperti mereka sangat dibutuhakan pada jaman kini. Contoh kecil saja, ada ribuan orang yang mendaftar jurusan kedokteran di Universitas Gajah Mada tapi hanya sekian persen yang akan memperoleh itu semua. Namun, tetap saja jumlah dokter dan ahli medis Indonesia tergolong minim. Apalagi, semakin banyak dokter yang materialistis dan enggan menjadi tenaga sukarela bagis bencana alam dan lainnya. Saya fikir ini perlu menjadi sorotan penting pemerintah khususnya DEPDIKNAS.
Sekian yang ingin saya sampaikan sesuai dengan isi pikiran saya.
Jaya terus pendidikan Indonesia!
Eleonora adalah siswi SMAK Sang Timur, Karmel, Jakarta, kelas 10 angkatan 2009/2010. Kamu bisa mengunjungi profil Facebooknya di sini.





